Sunday, October 17, 2010

Al-Quran Sumber Ilmu Pengetahuan

Al-Quran Sumber Ilmu Pengetahuan Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas
Al-Quranulkarim kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad  s.a.w, untuk menjadi panduan bagi ummat manusia seluruhnya. Kandungan isinya meliputi semua bidang kehidupan manusia didunia dan diakhirat. Ia mengandungi Perintah dan Larangan, khabar gembira dan duka, sejarah ummat dahulu kala untuk dijadikan teladan bagi ummat kini dan ummat yang akan datang, dan berbagai Ilmu Pengetahuan lainnya. Kebenaran al-Quran tidak dapat dipertikaikan.Banyak usaha yang telah dijalankan oleh manusia untuk menandingi al-Quran, tapi usaha mereka sia-sia sahaja.
Allah berfirman yang maksudnya:
"Katakanlah, sesungguhnya jika sekiranya berkumpul manusia dan jin untuk membuat serupa al-Quran,niscaya mereka tidak akan sanggup membuatnya, meskipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lainnya."
(al-Isra' ayat 88)
Meskipun al-Quranulkarim diturunkankan kepada nabi Muhammad s.a.w. lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan Nabi Muhammad s.a.w, kita ketahui semenjak kecil telah menjadi anak yatim piatu. Nabi s.a.w, tidak pernah berguru kepada sesiapapun. Sudah tentu jika sekiranya al-Quran bikinan manusia, maka manusia lainnya yang telah mendapat pendidikan yang tinggi dalam bidang bahasa dan sastra Arab, dan mempunyai Ilmu Pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang Ilmu Pengetahuan, tentu sahaja dapat menandingi al-Quranulkarim. Kenyataan yang kita lihat tidak ada yang sanggup menandingi al-Quran walaupun ramai yang telah mencubanya. Al-Quranulkarim mendapat penjagaan langsung dari Allah s.w.t, sebagaimana firman Allah:
"Sesungguhnya telah Kami turunkan peringatan (al-Quran )dan sesungguhnya Kami memeliharanya." (al-Hijr ayat 9)
Mereka yang beriman dan mempunyai Ilmu Pengetahuan mendapat tempat yang istimewa disisi Allah s.w.t.perhatikan firman Allah yang maksunya:
" Allah mengangkat orang yang beriman dari golonganmu dan juga orang-orang yang dikurniakan Ilmu Pengetahuan hingga beberapa darjat" (al-Mujadalah ayat 11)
Ayat yang pertama sekali diturunkan Allah adalah ayat yang perintah membaca dan menulis. Banyak membaca, maka banyak pula Ilmu Pengetahuan yang akan diketahui. Pandai menulis, maka dapatlah Ilmu Pengetauan yang kita ketahui itu disebar luaskan kedalam masyarakat, malah jika mutunya baik, akan men menjadi bacaan dan panduan bagi ummat dimasa yang akan datang.
Jika disimpulkan isi al-Quran antaranya hal-hal yang berkenaan:
Keimanan, Kehidupan dialam akhirat, suruhan dan larangan, akhlak yang mulia, ekonomi, sosial, sejarah, dan berbagai Ilmu Pengetahuan lainnya. Marilah kita mempelajari dan mendalami al-Quran, Insya Allah nanti kita akan mengetahui betapa hebatnya kandungan al-Quran.
Sumber : http://www.shiar-islam.com/doc2.htm

TUNTUNAN AL QUR’AN PADA ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

 TUNTUNAN AL QUR’AN PADA ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI


ilmu.jpg Al-Qur’an merupakan firman Allah yang mengandung berbagai aspek kehidupan, baik aspek hukum, sejarah, aqidah( keimanan), eskatologi,maupun isyarat tentang pengetahuan. Semua itu diperuntukan bagi manusia agar dijadikan pedoman hidup sehingga kehidupannya lebih baik dan mendapat rahmat dari Allah SWT.
Di dalam Al Qr’an ada isyarat ilmu pengetahuan yang perlu digali oleh manusia. Isyarat ilmu pengetahuan itu masih bersifat global sehingga memerlukan kesungguhan manusia untuk meneliti atau melakukan eksperimen untuk dapat menyingkap isi kandungannya. Sebagai contoh ayat Al Qur’an yang berisi isyarat ilmu pengetahuan adalah ayat-ayat berikut:
A. Surat Yunus ayat 101
1. Bacaan surat Yunus ayat 101

Artinya : “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. ” (QS Yunus : 101)
2. Isi kandungan
Dalam ayat ini Allah menjelaskan perintah Nya kepada rasul Nya agar dia menyuruh kaumnya untuk memperhatikan dengan mata kepala mereka dan dengan akal budi mereka segala yang ada di langit dan di bumi. Mereka diperintahkan agar merenungkan keajaiban langit yang penuh dengan bintang-bintang, matahari dan bulan, keindahan pergantian malam dan siang, air hujan yang turun ke bumi, menghidupkan bumi yang mati, menumbuhkan tanam-tanaman, dan pohon-pohonan dengan buah-buahan yang beraneka warna dan rasa. Hewan-hewan dengan bentuk dan warna yang bermacam-macam hidup diatas bumi, memberi manfaat yang tidak sedikit kepada manusia. Demikian pula keadaan bumi itu sendiri yang terdiri dari gurun pasir, lembah yang terjal, dataran yang luas, samudera yang penuh dengan berbagai ikan yang semuanya itu terdapat tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang berfikir dan yakin kepada penciptanya.
Akan tetapi mereka yang tidak percaya adanya pencipta alam ini, membuat semua tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam ini tidak akan bermanfaat baginya.
B. Surat Al Baqarah Ayat 164
1. Bacaan Surat Al Baqarah ayat 164

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al Baqarah : 164)
2. Kandungan
Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya untuk keperluan manusia. Sudah seharusnyalah manusia memperhatikan dan merenungkan rahmat Allah yang maha suci itu. Karena dengan begitu, akan bertambah yakinlah ia pada kekuasaan dan keesaan Nya, akan bertmabha luas pulalah ilmu pengetahuannya mengenai alam ciptaan Nya dan dapat pula dimanfaatkannya ilmu pengetahuan itu sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah yang maha mengetahui. Hendaklah selalu diperhatikan dan diselidiki apa yang tersebut dalam ayat ini, yaitu :
  1. Bumi yang dihuni manusia dan apa yang tersimpan didalamnya tidak akan pernah habis baik didarat maupun dilaut
  2. Langit dengan planet dan bintang-bintangnya semua berjalan dan bergerak menurut tata tertib dan aturan Ilahi. Tidak ada yang menyimpang dari aturan-aturan itu
  3. Pertukaran malam dan siang dan perbedaan panjanng dan pendeknya pada beberapa negeri karena perbedaan letaknya, kesemuanya itu membawa faedah dan manfaat yang amat besar bagi manusia
  4. Bahtera berlayar dilautan untuk membawa manusia dari satu negeri ke negeri yang lain dan untuk membawa barang-barang perniagaan untuk memajukan perekonomian
  5. Allah SWT menurunkan hujan dari langit sehingga dengan air hujan itu bumi yang telah mati atau lekang dapat menjadi hidup dan subur, dan segala macam hewan dapat pula melangsungkan hidupnya
  6. Pengendalian dan pengisaran angin dari suatu tempat ke tempat yang lain adalah tanda dan bukti bagi kekuasaan Allah dan kebesaran rahmatnya bagi manusia
  7. Demikian pula, harus dipikirkan dan diperhatikan kebesaran nikmat Allah kepada manusia dengan bertumpuk-tumpuknya awan antara langit dan bumi. Ringkasnya, semua rahmat yang diciptakan Allah termasuk apa yang tersebut dalam ayat 164 ini patut dipikirkan dan direnungkan bahkan dibahas dan diteliti untuk meresapkan keimanan yang mendalam dalam kalbu, dan untuk memajukan ilmu pengetahuan yang juga membawa kepada pengakuan akan keesaan dan kebesaran Allah.

Keajaiban Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan

Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.
Sebagai contoh ayat di bawah:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]
Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.
Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)
Langit yang mengembang (Expanding Universe)
Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.
Gunung yang Bergerak
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)
Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia
“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)
Diselamatkannya Jasad Fir’aun
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]
Foto
 Fir'aun Ramses 2Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II Dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya.  Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).
Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan
Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]
Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.
Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”
Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.
Tulisan di atas hanyalah sebagian kecil dari keajaiban Al Qur’an yang ada dan ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan modern. Bagi yang ingin tahu lebih banyak silahkan baca buku referensi di bawah.
Jelas Al Qur’an itu benar dan tak ada keraguan di dalamnya.
”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]
Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di dalamnya:
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An Nisaa’:82]
Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia (Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.
.
Sumber:
Harun Yaya
Mukjizat Al Qur’an, Prof. Dr. Quraisy Syihab
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-15-1181/

Tuesday, June 8, 2010

Ilmu-Ilmu Al-Qur'an

‘Ulumul Qur’an (Ilmu-Ilmu Al-Qur’an

Kajian tentang Al-Qur’an memerlukan banyak ragam ilmu, yang disebut sebagai ‘ulumul Qur’an (Ilmu-ilmu Al-Qur’an). Menghormati adanya ilmu-ilmu tersebut dan para ahlinya sangatlah penting agar kita tidak terjatuh kedalam kesalahan dan bahkan penyimpangan ketika berusaha memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Ini sangat penting teutama di zaman sekarang ini dimana pemahaman kebanyakan masyarakat muslim, bahkan yang biasa disebut sebagai kalangan terpelajar, terhadap agamanya sangatlah lemah. Bahkan dalam hal-hal yang sangat mendasar dan aksiomatik telah terjadi penjungkirbalikan pemahaman dari yang semestinya.
Dalam  mengkaji makna ayat-ayat Al-Qur’an, kita harus merujuk pada kitab-kitab tafsir yang telah diakui, sehingga kita akan mendapakan pemahaman yang benar dan tidak terjatuh kedalam kesalahan dan penyimpangan pemahaman. Sebaliknya, kita juga tidak boleh jatuh kedalam fobia atau ketakutan yang berlebihan intuk dekat dengan Al-Qur’an dan senantiasa berusaha untuk memahaminya, sehingga tidak berusaha untuk mempelajari kendungannya yang amat luas dan dalam kecuali sekedar membacanya saja.
  1. Ilmu Tajwid dan Tilawah
  2. Ilmu Tafsir :
    • Sejarah perkembangan ilmu tafsir
    • Macam-macam atau jenis-jenis tafsir
    • Metodologi/ kaidah-kaidah dan rambu-rambu dalam menafsirkan Al-Qur’an
    • Syarat-syarat seorang mufassir
    • Para ulama tafsir
    • Kitab-kitab tafsir
  3. Ilmu Sejarah Al-Qur’an
  4. Ilmu Qiro’at (versi-versi bacaan Al-Qur’an)
  5. Ilmu Asbabun Nuzul (latar belakang turunnya ayat-ayat Al-Qur’an)
  6. Ilmu Nasikh dan Mansukh
  7. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih
  8. Ilmu ‘Am dan Khash
  9. Ilmu Muthlaq dan Muqayyad
  10. Ilmu Manthuq dan Mafhum
  11. Ilmu Makki dan Madani
  12. Ilmu I’jaz Al-Qur’an  (kemukjizatan Al-Qur’an)
  13. Ilmu Amtsal Al-Qur’an  (perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an)
  14. Ilmu Aqsam Al-Qur’an  (sumpah-sumpah dalam Al-Qur’an)
  15. Ilmu Jadal Al-Qur’an (perdebatan-perdebatan dalam Al-Qur’an)
  16. Ilmu Qashash Al-Qur’an (kisah-kisah dalam Al-Qur’an)
  17. Ilmu Terjemah Al-Qur’an 
Sumber : http://www.quranpoin.com/memahami-al-quran/ulumul-quran-ilmu-ilmu-al-quran/

Ilmu Al-Qur'an

Ulumul Qur’an













Ditinjau dari segi bahasa, perkataan Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu: ‘ulum dan Qur’an”. Kata Ulum merupakan bentuk jamak dari kata ilm yang berrti ilmu-ilmu. Sedangkan al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Muhammad SAW untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia agar selamat di dunia dan di akhirat. Atau keterangan lain menyebutkan al-Qur’an mengandung arti: ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an baik dari segi keberadaannya maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.












Secara istilah para ulama telah merumuskan berbagai definisi Ulumul Qur’an, diantarnya al-Zarqoni dalam kitabnya Manahil al-Irfan menjelaskan :


Atinya : bebrapa pembahsan yang berhuungan dengan Al-Qur’an al-Karim dari segi turunnya, urutan-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemukjijatannya, nasikh dan mansukhnya, penolakan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan karaguan terhadapnya dan sebagainya.





Ruang Lingkup Pembahasan Ulumul Qur’an


Hasby As-Shidiqy dalam bukunya “sejarah dan pengantar ilmu Al-Qur’an/Tafsir mengandung segalam macam pembahasan Ulumul Qur’an kembali kepada beberapa pokok persoalan saja, yaitu:


1. Persoalan Nuzul, yaitu menyangkut: ayat-ayat Maqiyah dan Madaniyah, ayat-ayat Hadhariyah (ketika Nabi berada di kampong), ayat-ayqat shafariyah (ketika Nabi berada dalam perjalanan), ayat-ayat Nahariyah (diturunkan siang hari.


2. Persoalan sanad, yaitu menyangkut sanad yang mutawatir, ahad, syadz, bentuk-bentuk qira’at Nabi dan cara Tahamul (penerimaan riwayat)


3. Persoalan-persoalan yang menyangkut cara membaca al-Qur’an , seperti: waqf, ibtida’, imalah, mad, takhfif hamzah, idgham dsb.


4. Persoalan yang menyangkut lafadz al-Qur’an seperti: gharib, mu’rab, mjaz, musytaraq, muradif, isti’arah dan tasybuh.


5. Persoalan yang menyangkut makna al-Qur’an yang berhubungan dengan hokum seperti lafadz ‘am dengan segala bentuknya, khas, nash, dzahir, mujmal, mufashal, mantuq, mafhum, mutlaq, muqayad, muhkam, mutasyabih, dsb.


Cabang-cabang Ulumul-Qur’an


Pada dasarnya dibagi dalam dua kategori, yaitu ilmu Riwayah dan ilmu Dirayah. Yang termasuk Riwayah adalah ilmu-ilmu al-Qur’an yang diperoleh melalui jalan Riwayat yang Naql semata, seperti tentang turunya, tertibnya, macam-macam qira’at, wakti turunya dan lain sebagainya.


Yang termasuk dalam kategori ilmu Dirayah adalah ilmu al-Qur’an yang diperoleh melalui pendayagunaan kemampuan yang ada dalam jalan pemikiran, penalaran dan penyelidikan atau penelitian, seperti pengetahuan tentang lafadz-lafadz yang gharib, tentang I’jaz al-Qur’an, ayat yang nasikh dan yang mansukh dan lain sebagainya.


Sumber : http://kampusciamis.com/artikel/religi/93-ulumul-quran.html

Al-Qur'an

Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kebenarannya. Allah Ta’ala menurunkannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membebaskan manusia dari kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.
Para sahabat merupakan orang-orang yang selalu bersemangat untuk mendapatkan pengajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka selalu ingin menghafal dan memahami Al-Qur’an, karena dengan menghafal dan memahami Al-Qur’an merupakan suatu kehormatan bagi mereka.
Seiring dengan itu, mereka juga bersungguh-sungguh mengamalkan dan menegakkan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an. Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan bahwa orang-orang yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.” (HR. Abdurrazaq dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
Khalifah Utsman bin Affan membuat suatu terobosan baru untuk menyatukan kaum muslimin dengan pedoman satu mushaf yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Selanjutnya, mushaf tersebut dikirim ke berbagai negeri saat itu. Adapun tulisan huruf-hurufnya disebut rasm Utsmani, yang dikaitkan dengan nama Khalifah Utsman. Langkah ini merupakan awal munculnya ilmu penulisan rasm Al-Qur’an.
Kemudian, Khalifah Ali bin Thalib menyuruh Abul Aswad Ad-Duali untuk mengagas kaidah nahwu demi menghindari adanya kekeliruan dalam pengucapan dan untuk lebih memantapkan bagi pembacaan Al-Qur’an. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu I’rab Al-Qur’an.
Di antara para ahli tafsir dikalangan sahabat nabi adalah empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair.
Adapun dikalangan para tabi’in, tidak sedikit yang menimba ilmu dari para sahabat, dan kemudian melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat. Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang cukup terkenal yaitu Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Thawus, dan Atha’ bin Rabah.
Murid Ubay bin Ka’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abu Aliyah, dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi.
Di Irak terdapat beberapa murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai ahli tafsir. Mereka seperti Alqamah bin Qais, Masruq bin Al-Ajda’, Aswad bin Yazid, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, dan Qatadah.
Menurut Ibnu Taimiyah, ada beberapa orang yang terkemuka dalam bidang tafsir di Makkah. Mereka adalah sahabat-sahabat Ibnu Abbas seperti Mujahid, Atha’ bin Rabah, Ikrimah, Thawus, Sa’id bin Jubair, dll. Sedangkan ulama tafsir di Madinah seperti Zaid bin Aslam (guru Imam Malik), Abdurrahman bin Zaid, dan Abdullah bin Wahab.
Adapun jenis ilmu yang diriwayatkan dari mereka itu mencakup ilmu tafsir, ilmu gharib Al-Qur’an, ilmu asbab an-nuzul, ilmu Makkiyah-Madaniyah, dan ilmu nasikh-mansukh. Tetapi semua ini diriwayatkan dengan cara talqin (belajar langsung dari guru).
Abad kedua Hijriyah adalah masa kodifikasi. Mula-mula kodifikasi hadits dengan metode penggunaan bab-bab yang kurang sistematik. Semuanya mencakup segala yang berkaitan dengan tafsir. Sebagian ulama menyatukan tafsir yang diriwayatkan tanpa melihat apakah itu berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat, atau tabi’in.
Tokoh-tokoh yang melakukan kodifikasi itu diantaranya Yazid bin Harun As-Sulami (wafat 117 H), Syu’bah bin Al-Hajjaj (wafat 160 H), Waki’ bin Al-Jarrah (wafat 197 H). Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H), dan Abdurrazaq bin Hammam (wafat 211 H). Kesemua ulama tersebut pada dasarnya adalah ulama hadits.
Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf. Di antara mereka yang terkenal adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).
Demikianlah, pertama kali tafsir dilakukan dengan metode dari mulut ke mulut dan periwayatan, lalu melalui dengan proses kodifikasi namun masih masuk dalam bab-bab hadits. Kemudian muncul tafsir bil matsur (yang menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, serta perkataan para sahabat, dan salafush shalih) dan tafsir bir ra’yi (yang menggunakan akal atau pendapat pribadi).
Dalam ilmu tafsir muncul karya-karya tematik yan berkaitan dnegan tafsir Al-Qur’an yang cukup penting bagi seorang mufassir. Ali bin Madini, guru Imam Bukhari (wafat 234 H) menulis tentang asbab an-nuzul. Abu Ubaid bin Al-Qasim bin Sallam (wafat 224 H) melahirkan karya tentang nasikh dan masukh serta masalah qiraat. Ibnu Qutaibah (wafat 275 H) menulis masalah problema Al-Qur’an (Musykil Al-Qur’an). Mereka merupakan para ulama abad ketiga Hijriah.
Pada abad keempat Hijriah, tidak sedikit ulama yang menulis tentang masalah terkait, Muhammad bin Khalaf bin Al-Marzuban (wafat 309 H) menulis sebuah kitab Al-Hawi fi ‘Ulumi Al-Qur’an, Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Ambari (wafat 309 H) menulis kitab ‘Ulum Al-Qur’an, dan Muhammad bin Ali Al-Afidi (wafat 388 H) menulis kitab Al-Istighna fi ‘Ulum Al-Qur’an. Kemudian banyak karya ulama yang muncul melanjutkan pengkajian dalam disiplin ilmu Al-Qur’an.
Sedangkan definis dari ‘Ulumul Qur’an merupakan suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian Al-Qur’an seperti pembahasan tentang asbab an-nuzul, pengumpulan Al-Qur’an dan penyusunannya, masalah Makkiyah dan Madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabihat, dll.
Terkadang, ‘ulumul Qur’an disebut sebagai ushul at-tafsir karena memuat berbagai pembahasan dasar atau pokok yang wajib dikuasai dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Sumber:
Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Syaikh Manna Al-Qaththan: Pustaka Al-Kautsar

Ulumul Qur'an


PENDAHULUAN
Al-qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada nabi muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَـبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهَدَى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(Q.S.An-Nahl 89)
Mempelajari isi Al-qur’an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya.Firman Allah :

وَلَقَدْ جِئْنَـهُمْ بِكِتَـبٍ فَصَّلْنَـهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami[546]; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Q.S.Al-A’raf 52)
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-qur’an dengan bantuan terjemahnya sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Bahkan di antara para sahabat dan tabi’in ada yang salah memahami Al-Qur’an karena tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an diperlukanlah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana, tata cara menafsiri Al-Qur’an. Yaitu Ulumul Qur’an atau Ulum at tafsir. Pembahasan mengenai ulumul Qur’an ini insya Allah akan dibahas secara rinci pada bab-bab selanjutnya.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Ulumul Qur’an
Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnaya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasmil Qur’an, ilmu I’jazil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari ulumul Qur’an.
Sedangkan menurut terminologi terdapat berbagai definisi yang dimaksud dengan ulumul Qur’an diantara lain :
v    Assuyuthi dalam kitab itmamu al-Dirayah mengatakan :

“Ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya”.
v    Al-Zarqany memberikan definisi sebagai berikut:

“Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an Al-Karim dari segi turunya, urutanya, pengumpulanya, penulisanya, bacaanya, penafsiranya, kemu’jizatanya, nasikh mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya”.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ulumul qur’an adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandunganya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia atau ilmu-ilmu yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahas al-Qur’an.
B. Ruang Lingkup Pembahasan Al-Qur’an
Ulumul Qur’an merupakan suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Ulumul Qur’an  meliputi semua ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti ilmu balaghah dan ilmu I’rab al-Qur’an. Disamping itu, masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya. Dalam kitab Al- Itqan, Assyuyuthi menguraikan sebanyak 80 cabang ilmu. Dari tiap-tiap cabang terdapat beberapa macam cabang ilmu lagi. Kemudian dia mengutip Abu Bakar Ibnu al_Araby yang mengatakan bahwa ulumul qur’an terdiri dari 77450 ilmu. Hal ini didasarkan kepada jumlah kata yang terdapat dalam al-qur’an dengan dikalikan empat. Sebab, setiap kata dalam al-Qur’an mengandung makna Dzohir, batin, terbatas, dan tidak terbatas. Perhitungan ini masih dilihat dari sudut mufrodatnya. Adapun jika dilihat dari sudut hubungan kalimat-kalimatnya, maka jumlahnya menjadi tidak terhitung. Firman Allah :
علم يبحث فيه عن احوال الكتاب العزيز من  جهة نزوله وسنده وادابهوالفاظه ومعانيه المتعلقة بالاحكام وغير ذالكّ. مباحث تتعلّق بالقران الكريم من ناحية نزوله وترتيبه وجمعه وكابته وقراءته وتفسيره واعجازه وناسخه ومنسوخه ودفع الشّبه عنه ونحو ذالك.

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَـتِ رَبِّى لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).(Q.S. Al-Kahfi 109)
C. Pokok Pembahasan
Secara garis besar Ilmu alQur’an terbagi dua pokok bahasan yaitu :
1.    Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas tentang macam-macam qira’at, tempat turun ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.
2.    Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.
Namun, Ash-Shidiqie memandang segala macam pembahasan ulumul Qur’an itu kembali kepada beberapa pokok pembahasan saja seperti :
v    Nuzul. Permbahasan ini menyangkut dengan ayat-ayat yang menunjukan tempat dan waktu turunya ayat Al-Qur’an misalnya : makkiyah, madaniyah, hadhariah, safariyah, nahariyah, lailiyah, syita’iyah, shaifiyah, dan firasyiah. Pembahasan ini juga meliputi hal yang menyangkut  asbabun nuzul dan sebagainya.
v    Sanad. Pembahasan ini meliputi hal-hal yang menyangkut sanad yang mutawattir, ahad, syadz, bentuk-bentuk qira’at nabi, para periwayat dan para penghapal Al-Qur’an Al-Qur’an, dan Cara Tahammul (penerimaan riwayat).
v    Ada’ al-Qira’ah. Pembahasan ini menyangkut waqof, ibtida’, imalah, madd, takhfif hamzah, idghom.
v    Pembahasan yang menyangkut lafadz Al-Qur’an, yaitu tentang gharib, mu,rab, majaz, musytarak, muradif, isti’arah, dan tasybih.
v    Pembahasan makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang bermakna Amm dan tetap dalam keumumanya, Amm yang dimaksudkan khusus, Amm yang dikhususkan oleh sunnah, nash, dhahir, mujmal, mufashal, manthuq, mafhum, mutlaq, muqayyad, muhkam, mutasyabih, musykil, nasikh mansukh, muqaddam, mu’akhar, ma’mul pada waktu tertentu, dan ma’mul oleh seorang saja.
v    Pembahasan makna Al-Qur’anyang berhubungan dengan lafadz, yaitu fashl, washl, ijaz, ithnab, musawah, dan qashr.
D. Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an
Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, ulumul Qur’an tidak lahir sekaligus. Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an dari segi keberadaanya dan segi pemahamanya.
Di masa Rasul SAW dan para sahabat, ulumul Qur’an belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para sahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasul, dan bila menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW.
Di zaman Khulafa’u Rasyiddin sampai dinasti umayyah wilayah islam bertambah luas sehingga terjadi pembauran antara orang Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa arab, bahkan dikhawatirkan tentang baca’an Al-Qur’an yang menjadi sebuah standar bacaan mereka. Untuk mencegah kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah al-qur’an yang disebut mushaf imam. Dan dari salinan inilah suatu dasar ulumul Qur’an yang disebut Al rasm Al-Utsmani.
Kemudian, Ulumul Qur’an memasuki masa pembukuanya pada abad ke-2 H. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai umm al ulum alQur’aniyyah. Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu’bah ibn al-Hajjaj (160 H), Sufyan Ibn Uyaynah (198 H), dan Wali Ibn al-Jarrah (197 H). dan pada abad ke-3 muncul tokoh tafsir yang merupakan mufassir pertama yang membentangkan berbagai pendapat dan mentarjih sebagianya. Beliau adalah Ibn jarir atThabari (310 H). Selanjutnya sampai abad ke-13 ulumul Qur’an terus berkembang pesat dengan lahirnya tokoh-tokoh yang selalu melahirkan buah karyanya untuk terus melengkapi pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan ilmu tersebut. Diantara sekian banyak tokoh-tokoh tersebut, Jalaluddin al-bulqini (824 H) pengarang kitab Mawaqi’ Al-ulum min Mawaqi’ al-Nujum dipandang Assuyuthi sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Qur’an yang lengkap. Sebab, dalam kitabnya tercakup 50 macam ilmu Al-Qur’an. Jalaluddin al-Syuyuthi (991 H) menulis kitab Al-Tahhir fi Ulum al-Tafsir. Penulisan kitab ini selesai pada tahun 873 H. kitab ini memuat 102 macam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Karena itu, menurut sebagian ulama, kitab ini dipandang sebagai kitab Ulumul Qur’an paling lengkap.namun, Al-Syuyuthi belum merasa puas dengan karya monumental ini sehingga ia menyusun lagi kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Didalamnya dibahas 80 macam ilmu-ilmu Al-Qur’an secara padat dan sistematis. Menurut Al-Zarqani, kitab ini merupakan pegangan bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Sampai saat ini bersamaan dengan masa kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama, para ulama masih memperhatikan akan ilmu Qur’an ini. Sehingga tokoh-tokoh ahli Qur’an masih banyak hingga saat ini di seluruh dunia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa kata Ulumul Qur’an secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Sedangkan secara terminologi dapat disimpulkan bahwa ulumul qur’an adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandunganya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia.
Ulumul Qur’an merupakan suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Ulumul Qur’an  meliputi semua ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab. Disamping itu, masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya.
Secara garis besar Ilmu alQur’an terbagi dua pokok bahasan yaitu :
1.    Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas tentang macam-macam qira’at, tempat turun ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.
2.    Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.
Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin
ilmu melalui proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an dari segi keberadaanya dan segi pemahamanya .
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahid Ramli.Drs, Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
Nata Abuddin, Al-Qur’an dan Hadits, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1992
Abdul Halim M, Memahami Al-Qur’an, Marja’, Bandung, 1999
Shaleh K.H, Asbabun Nuzul, C.V Diponegoro, Bandung, 1992
Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya
Sumber : http://dakir.wordpress.com/2009/03/13/pengertian-ulumul-quran/

PENGERTIAN ULUMUL QUR'AN

A. PENGERTIAN ULUMUL QUR’AN
Ungkapan ulumul qur’an berasal dari bahasa arab yaitu dari kata ulum dan al-qur’an. Kata ulum jamak dari ilmu dan al-qur’an. Menurut Abu syahbah ulumul qur’an adalah sebuah ilmu yang memiliki banyak objek pembahasan yang berhubungan dengan al-qur’an,mulai dari proses penurunan, urutan penulisan,kodifikasi,cara pembaca,penafsiran,nasikh mansukh,muhkam mutashabih serta pembahasan lainnya
B. SEJARAH TURUNNYA ALQUR’AN DAN PENULISAN ALQUR’AN
Hikmah diwahyukan alqur’an secara berangsur-angsur adalah al-qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari yaitu mulai dari malam 17 romadhan tahun 41 dari kelahiran nabi sampai 9 dzulhijah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H. Proses turunnya ql-quran melalui 3 tahapan yaitu
1. Al-qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh mahfuzh yaitu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Dalam firmanya “ Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-qur’an yang mulia yang tersimpan dalam lauh al-mahfuzh (Q.S AL-buruuj :21-22)
2. Al-qur’an diturunkan dari lauh al mahfuzh ke bait Al-Izzah ( tempat yang berada di langit dunia )
3. Al-qur’an diturunkan dari bait al-Izzah ke dalam hati nabi melalui malaikat jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakala satu ayat kadang satu surat.
Disamping hikmah diatas ada hikmah yang lainnya yaitu
1. Memantapkan hati nabi
2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-qur’an
3. Memudahkan untuk dihafal dan difahami
4. mengikuti setiap kejadian yang menyebabkan turunya ayat-ayat al-qur’an dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at
5. membuktikan dengan pasti bahwa al-qur’an turun dari allah yang maha bijaksana
Penulisan al-qur’an pada masa Abu Bakar termotivasi karena kekwatiran sirnanya al-qur’an dengan syahitnya beberapa penghapal Al-qur’an pada perang yamamah, Abu bakar melakukan pengumpulan al-qur’an dengan mengumpulkan al-qur’an yang terpencar-pencar pada pelepah kurma,kulit,tulang dan sebagainya
C. ASBAB AN-NUZUL
Ungkapan asbab-nuzul merupakan bentuk idhofah dari asbab dan nuzul. Secara etimologi artinya sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Menurut Az-zargani Asbabuan-nuzul adalah sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunya ayat Al-qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.Menurut Az-zargani urgensi asbab an-nuzul dalam mmahami Al-qur’an adalah
1. Membantu dan memahami sekaligus mengatasi ketidak pastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-qur’an.
2. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat al-qur’an bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat kusus.
4. Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat al-qur’an.
5. Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya.
D. MUNASABAH AL QUR’AN
Menurut Manna Al-qathan munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat,atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat dalam al-qur’an. As-Suyuti menjelaskan langkah-langkah yang diperhatikan dalam menemukan munasabah yaitu:
a. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian
b. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat
c. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu apakah ada hubungannya atau tidak
d. Dalam mengambil keputusan,hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkspan dengan benar dan tidak berlebihan
Macam-macam munasabah;
1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya: berfungsi sebagai menyempurnakan surat sebelumnya
2. Munasabah antara nama surat dan tujuan turunya
3. Munasabah antar bagian suatu ayat
4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan
5. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya
6. Munasabah antara fashilah (pemisah)dan isi ayat
7. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama
8. Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya
E. MAKIYAH DAN MADANIYAH
“Makiyah ialah ayat – ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah,kendatipun bukan turun di Mekkah .Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah,kendatipun bukan turun di madinah.Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah di sebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.”
Ciri-ciri spesifik makiyah dan madaniyah
1. Makiyah
a. Di dalamnya terdapat sajadah
b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kalla
c. Dimulai dengan ya-ayuha an-nas
d. Ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat- umat terdahulu
e. Ayatnya berbicara tentang kisah nabi Adam dan Idris kecuali surat al-baqoroh
f. Ayatnya dimulai dengan huruf terpotong- potong seperti alif lam mim dan sebagainya
2. Madaniyah
a. Mengandung ketentuan-ketentuan faroid dan hadd
b. Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafikkecuali surat al-ankabut
c. Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitab
F. MUHKAM DAN MUTASYABIH
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang baik melalui ta’wil ataupun tidak
Ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui Allah seperti kedatangan kedatangan hari kiamat, kedatangan dajjal.
Hikmah keberadaan ayat mutasabih dalam Al-qur’an adalah:
1. Memperlihatkan kelemahan akal manusia.
2. Teguran bagi orang-orang yang mengotak atik ayat mutasabih.
3. Memberikan pemahaman abstrak Illahi kepada manusia melalui pengalaman inderawi yang biasa disaksikannya.
G. QIRO’AT AL-QUR’AN
Qiro’at adalah ilmu yng mempelajari cara-cara mengucapkan kata-kata al-qur’an dan perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.
Macam-macam qiro’at:
1. Qiro’at Sab’ah ( Qiro’at tujuh ) adalah imam-imam qiro’at ada tujuh orang, yaitu:
a. ‘Abdullah bin Katsir Ad-Dari (w.120 H ) dari Mekkah.
b. Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Na’im (w .169 H ).dari madinah
c. ‘Abdullah Al-yashibi (w.118 H ) dari Syam
d. Abu Amar (w.154 H ) dari Irak
e. Ya’kub (w.205 H ) dari Irak
f. Hamzah (w.188 )
g. ‘Ashim (w.127 H )
2. Qiro’ah Asyiroh adalah qiro’ah sab’ah ditambah dengan 3 imam yaitu: Abu Ja’far, Ya’kub bin Ishaq, kalaf bin hisyam
3. Qiro’ah Arba Asyiroh (qiro’ah empat belas) yaitu qiro’ah sepuluh ditambah dengan 4 imam yaitu Al-hasan al basri, muhammad bin abdul rohman,yahya bin mubarok,Abu fajr muhammad bin ahmad.
Dari segi kualitas qiro’ah dapat dibagi menjadi
1. Qiro’ah Mutawwatir yaitu qiro’ah yang disampakan kelompok orang yang sanatnya tidak berbuat dusta
2. Qiro’ah Mashur yaitu qiro’ah yang memiliki sanad sahih dan mutawatir
3. Qiro’ah ahad yaitu memiliki sanad sahih tapi menyalahi tulisan mushaf usmani dan kaidah bahasa Arab
4. Qiro’ah Maudhu yaitu palsu
5. Qiroah Syadz Yaitu menyimpang
6. Qiro’ah yang menyerupai hadist mudroj (sisipan)

Sumber : http://yodisetyawan.wordpress.com/2008/05/02/resume-kajian-ulumul-qur%E2%80%99an/

Thursday, June 3, 2010

Sejarah Al-Qur'an

Sejarah Al-Qur'an

Setelah Rasulullah wafat, tampilah Abu Bakar sebagai khalifah untuk memimpin umat. Pelayanan umat muslim terhadap al-Quran pada masa kepimpinan khalifah Abu Bakar mengalami suatu kemajuan yang sangat signifikan. Hal ini tidak lepas dari kondisi umat pada masa itu, riwayat dari Imam Bukhori menerangkan sebagai berikut: “Berkata kepada kami Musa bin Ismail dari Ibrahim bin Sa’ad berkata kepada kami Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-Sibaq bahwa Zaid bin Tsabit Ra menyatakan: “Telah datang kepadaku Abu Bakar as-Siddiq setelah peperangan di Yamamah, kebetulan Umar bin Khattab bersamanya, Abu Bakar menyatakan sungguh Umar telah datang kepadaku dan berkata : ‘Peperangan telah menyebabkan kematian beberapa pembaca al-Quran, dan saya sungguh khawatir jika kematian meluas kebeberapa Qurra’ di daerah-daerah hingga menyebabkan hilangnya kebanyakan al-Quran, dan saya berpendapat agar engkau segara memerintahkan kodifikasi atas al-Quran’. Saya mengatakan kepada Umar, “Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang belum pernah Rasulullah Saw lakukan?” Umar berkata: “Demi Allah hal ini adalah sangat baik”. Maka Umar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku atas hal itu sebagaimana penglihatan Umar. Zaid berkata, “bahwa Abu Bakar menyatakan ‘sesungguhnya engkau orang yang masih muda lagi cerdas, bukannya kami menuduhmu , dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Saw, maka cermatilah al-Quran dan lakukan kodifikasi’. Maka demi Allah, seandainya saja memerintahkanku memindahkan salah satu gunung dari beberappa gunung tidaklah lebih berat dari perintah kodifikasi atas al-Quran”. Saya berkata : “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw? Berkata Abu Bakar: ”Demi Allah, inilah yang terbaik”. Abu Bakar memintaku hingga Allah melapangkan dadaku untuk dapat memahami pendapat Abu Bakar dan Umar, maka segera saya lakukan penulusuran dan pengumpulan al-Quran dari rumput dan pelepah pohon serta hafalan para Qurra’ sampai saya temukan akhir dari surat at-Taubah (..telah datang kepadamu…..) hingga akhir surat pada Abu Khuzainah al-Anshori yang tidak terdapat pada lainya. Lembaran-lembaran tersebut terasa ditangan Abu Bakar hingga beliau wafat ,kemudian umar dan kemudian ditangan Hafshaf binti Umar bin Khattab.” [1]


Upaya penyalinan oleh para penulis wahyu dengan dibantu para Qurra’ (penghafal al-Quran) telah menghasilkan tulisan al-Quran dalam bentuk lembaran-lembaran yang dapat meminimalisir perbedaan pendapat dalam tulisan dan bacaan al-Quran bagi umat muslim.

Dengan upaya adanya kodifikasi tersebut diatas tugas para penghafal al-Quran bukannya selesai. Sebab tugas tersebut tidak semata-mata untuk pengajaran al-Quran saja, namun lebih dari itu merupakan suatu ibadah yang membuat para pelakunya memiliki keutamaan disisi Allah.

Kodifikasi ll (Upaya Perwujudan Mushaf Induk)

Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab masalah perbedaan dalam membaca al-Quran belum merupakan hal yang mengkhawtirkan, walaupun begitu mereka telah mengantisipasi dengan melakukan kodifikasi atas al-Quran sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Namun setelah dua masa kepemimpinan, masalah tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran, sehinagga para sahabat segera mengambil tindakan seperti yang disebutkan dalam riwayat berikut: “Berkata kepada kami Musa, berkata kepada Ibrahim, berkata kepada kami Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik mengatakan kepadanya: ‘Khudzaifah bin al–Yaman datang kepada ustman ,dan sebelumnya ia memerangi warga Syam dalam penaklukan Armenia dan Azarbaijan bersama warga Irak, maka terkejutlah Khudzaifah akan adanya perbedaan mereka dalam hal bacaan al-Quran, maka berkatalah Khudzaifah kepada Ustman: ‘Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah Kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasroni’. Ustman lantas berkirim surat kepada Hafsah,”Kirimkan kepada kami lembaran-lembaran untuk kami tulis dalam mushaf (bentuk plural dari mushaf, kumpulan lembaran yang diapit dua kulit seperti buku) kemudian kami kembalikan kepadam’, Hafsah segera mengirmkan kepada Ustman ,maka Ustmanpun segera memerintahkan Zaid bin Tsabit ,Abdullah bin Zubair ,Sa’id bin Ash serta Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya kedalam mushaf-mushaf, dan dia (Ustman) mengatakan kepada otoritas Quraisy tersebut di atas: ‘Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah al-Quran diturunkan, maka tulislah dengan lisan Quraisy, sebab al-Quran diturunkan dalam dialek mereka (suku Quraisy)’, dan merekapun melakukan hal ini, dan ketika mereka selesai menyalin lembaran-lembaran tersebut kedalam beberapa mushaf, Ustman segera mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepasa Hafsah, lalu mengirim mushaf yang telah mereka salin kesatu tempat, dan memerintahkan agar selain mushaf tersebut entah berupa lembaran (sahifah) atau sudah berupa mushaf untuk dibakar.” [2]

Pada masa itu tulisan (kaligrafi) Arab masih belum berharakat dan bertitik seperti yang kita jumpai pada saat ini, perbedaan harakat, dan panjang pendek bacaan akan menunjukan makna yang berbeda, hal ini tidak mustahil menimbulkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat muslim non Arab. Cara baca dan pemaknaan yang salah sangat mungkin dilakukan oleh mereka.

Berdasarkan laporan dari Huzdaifah bin al-Yaman yang baru datang dari Armenia dan Azarbaijan (kedua wilayah tersebut bukan wilayah yang berbahasa Arab), Ustman sebagai kholifah dibantu para sahabat segera mengambil tindakan. Demi mengatasi hal itu maka al-Quran yang pernah ditulis pada masa Abu Bakar (masih dalam bentuk lembaran ) disalin lagi dalam bentuk mushaf (diapit dua kulit seperti buku), untuk dibagikan ke daerah –daerah sebagai al-Quran standar, sedangkan yang lain dimusnahkan. Keputusan yang diambil oleh para sahabat, khususnya ustman sebagai pemimpin umat pada waktu itu sangatlah tepat, sebab tugas seorang khalifah tidak hanya masalah ekonomi, politik dan sosial, tapi juga menyangkut keagamaan, seperti penjagaan keaslian al-Quran baik bacaan maupun tulisannya. Jika merebak suatu bacaan yang salah dan beraneka ragam, maka tugas pemimpin umat Islamlah untuk membetulkan, sehingga umat ini selamat dari apa yang pernah dilakuakan oleh umat sebelumnya.

Tapi yang perlu diingat bahwa standarisasi tidak menafikan adanya tujuh macam bacaan yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Dengan adanya mushaf imam (induk) kemudian kita kenal dengan Mushaf Ustmani, secara tidak langsung khalifah Ustman tekah meletakkan dasar-dasar untuk tumbuh kembangnya ilmu al-Quran yang diawali dengan pembahasan masalah rasm (bentuk tulisan) Ustmani atau ilmu rasm al-Quran.

Jika diruntut dari awal, wahyu ditulis oleh tim yang ditunjuk oleh Rasulullah pada saat bersamaan dihafalkan oleh para qurra’, kemudian pada masa khalifah Abu Bakar apa yang ditulis oleh tim dalam bentuk mushaf (sajifah) lembaran-lembaran tersebut disalin kembali menjadi bentuk mushaf (berbentuk seperti buku) dan menjadi standar satu-satunya. Lalu mushaf standar inilah yang sampai kepada kita hari ini. Menurut Ibnu Mandzur (630-711 H) dalam kamusnya yang terkemal, Lisan al-Arab, kata ‘sahifah’ artinya lembaran yang ada tulisanya, sedangkan mushaf atau misahaf bermakna himpunan dari lembaran yang ada tulisannya dengan dibatasi dua kulit. [3] Makna yang sama disampaikan penulis kamus lain yang lebih dahulu yaitu al-Azhari [4] juga al-Jauhari (393 H.) dalam as-Shihahnya.

Setelah meninggalnya khalifah Ustman, sahabat Ali bin Abi Thalib yang memegang tampuk kepemimpinan, dan seperti pendahulunya pelayanan terhadap al-Quran tidak pernah absen. Dengan berkembangnya daerah kekuasan Islam, mereka yang tidak menguasai bahasa Arab sering kali melakukan kesalahan dalam membaca al-Quran. Melihat yang sedemikian itulah khalifah memerintahkan Abu al-Aswad as-Suali untuk menulis beberapa kaidah bahasa Arab agar masyarakat bisa membaca al-Quran dengan benar. Upaya tersebut menjadi dasar peletakan ilmu nahwu (gramatika arab) dan ilmu i’rab al-Quran. [5]

Al-Quran Pasca Khulafa ar Rasyidin

Setelah berakhir masa kepemimpinan Khulafa ar-Rasyidin kemudian pemerintah bani Umayah dengan Mua’wiyah sebagai pemimpin pertama dari dinasti ini. Dan seperti pendahulunya Mu’awiyah telah memberikan sentuhan yang sangat berarti dengan menggalakkan pemberian tanda baca pada mushaf . Ini dilakukan ketika salah satu Gubenurnya di Basrah yaitu Ziyad bin Samiyah menyaksikan kekeliruan sebagian orang dalam membaca surat at-Taubah ayat 3, yang dapat melahirkan makna yang salah.

Pada masa mainstream pengajaran al-Quran oleh para sahabat dan tabi’in masih menggunakan metode at-Talaqqi wal ‘ardli dan Talqin (pengajaran dengan cara instruksi dan dikte ) karena tradisi tulisan belum membudaya. Selain empat khalifah, sahabat-sahabat lain juga mempelopori pengajaran al-Quran dengan metode diatas adalah: Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid Tsabit, Abu Musa al-‘Asyari serta Abdullah bin Zubair. Sedangkan yang dari tabi’in mereka adalah Mujahid, Atho’ Ikrimah, Qotadah, Hasan al-Bashri, Sa’ad bin Zubair dan Zaid bin Aslam. Merekalah yang telah dianggap meletakan dasar-dasar ilmu al-Quran seperti ilmu Tafsir, Asbah an-Nuzul, ilmu Nasikh Mansukh, ilmu Gharib al-Quran dan lain sebagainya.

Pada masa-masa selanjutnya ketika perkembangan keilmuan dalam Islam mulai berkembang, pelayanan dan interaksi dengan al-Quran oleh para sarjana muslim telah menghasilkan berbagai ilmu, baik yang ditunjukkan untuk penjagaan al-Quran seperti tajwid (untuk membaca kesalahan dalam bacaan ), Ilmu Qiroat (membahas variasi bacaan seperti yang telah ditetapkan oleh Rasullulah Saw), Ilmu Rasm (membahas tata cara pemberian tanda baca), Ulum al-Quran (yang mencakup seluruh kajian tentang al-Quran seperti sebab-sebab turunnya wahyu dll); ataupun yang merupakan hasil dari interaksi mereka dengan al- Qur’an seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Balaghoh (retorika ), Fan al-Qashas al-Quraniyah (seni pengkisahan dalam al-Quran) termasuk juga nahwu (gramatika arab yang merujuk pada al-Quran) atau yang bersifat seni seperti seni baca al-Quran dengan dilantunkan, serta kaligrafi.

Walaupun kegiatan penghafalan al-Quran tatap berlaku sebagaimana semestinya, bahkan menjadi pelajaran dasar wajib bagi pelajar khususnya abad-abad pertengahan sampai sekarang, terutama di pesantren. Tidaklah keterlaluan jika Syaikhhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan : “Umat kita tidaklah sama dengan ahli kitab, yang tidak menghafalkan kitab suci mereka. Bahkan jikalau seluruh mushaf ditiadakan maka al-Quran tetap tersimpan dalam hati umat muslim.” [6]

Pada masa sekarang, pengawasan ada di bawah lajnah pentashih al-Quran, dibawah pengawasan departemen RI. Di Negara Islampun terdapat badan yang serupa, khususnya dalam masalah al-Quran. Kini umat muslim bisa mendengarkan dari manapun di penjuru dunia tanpa merasa asing akan bacaan mereka dengan media bermacam-macam. Dalam upaya mampelajari ayat-ayat al-Quranpun sudah banyak kemudian yang mereka dapatkan baik berupa tafsir maupun terjemahan serta sederet ilmu-limu yang lainya.

Sampai disini dulu, semoga nanti ada waktu dan kesempatan untuk mengulas sejarah al-Quran lebih dalam lagi. Wasalam.

Footnote:
1. Bukhori muslim
2. Open Hani jilid ll: 302, dalam Zainal Arifin Abbas, peri hidup Muhammad Saw, firma rahmat medan th 1952 ll A 482-493
3. Ibid hal 520
4. Majalah Modus, Edisi 2 hal 26
5. Ibnu Hisyam, as-Sirah an Nabawiyah, Dar al- Manar Kairo 1999 jilid 1 hal 378
6. Imam Ahmad.
 

Tentang Qiro'ah Sab'ah

MENGENAL QIROAH SAB’AH

MUQADDIMAH :
Al-Qur’an adalah wahyu yang di turunkan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad. Sejak masa turunnya hingga sekarang, ayat-ayat dan surat-suratnya tak putus-putusnya dibaca dan diperbincangkan oleh kaum Muslimin. Kita semua tahu bahwa Al-Quran yang ada pada kita sekarang ini adalah Al-Quran yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad s.a.w empat belas abad yang lalu, dan Alloh telah menjaganya dari kebathilan sampai hari qiyamat, sebagaimana di terangkan dalam firmanNya.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran, dan Kami tentu menjaganya." (QS 15:9)
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ (41) لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
"Sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia dan tidak akan terjamah kebatilan dari awal sampai akhir. la diturunkan dari Tuhan yang Maha bijaksana dan Maha Terpuji." (QS 41: 41-42)
I. DALIL ( PETUNJUK ) PENURUNAN AL-QUR’AN ATAS TUJUH HURUF
Sungguh banyak hadits-hadits yang menerangkan hal itu, di antaranya yang di riwayatkan dari Umar bin al-Khottob semoga Alloh meridoinya.
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِى اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِى عُقَيْلٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِى عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ الْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَبْدٍ الْقَارِىَّ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا سَمِعَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفُرْقَانِ فِى حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ b فَاسْتَمَعْتُ لِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا هُوَ يَقْرَأُ عَلَى حُرُوفٍ كَثِيرَةٍ لَمْ يُقْرِئْنِيهَا رَسُولُ اللهِ b فَكِدْتُ أُسَاوِرُهُ فِى الصَّلاَةِ فَتَصَبَّرْتُ حَتَّى سَلَّمَ فَلَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَقُلْتُ مَنْ أَقْرَأَكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِى سَمِعْتُكَ تَقْرَأُ . قَالَ أَقْرَأَنِيهَا رَسُولُ اللهِ b. فَقُلْتُ كَذَبْتَ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ b قَدْ أَقْرَأَنِيهَا عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأْتَ ، فَانْطَلَقْتُ بِهِ أَقُودُهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ b فَقُلْتُ إِنِّى سَمِعْتُ هَذَا يَقْرَأُ بِسُورَةِ الْفُرْقَانِ عَلَى حُرُوفٍ لَمْ تُقْرِئْنِيهَا . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ b أَرْسِلْهُ اقْرَأْ يَا هِشَامُ . فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةَ الَّتِى سَمِعْتُهُ يَقْرَأُ . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ b كَذَلِكَ أُنْزِلَتْ . ثُمَّ قَالَ اقْرَأْ يَا عُمَرُ . فَقَرَأْتُ الْقِرَاءَةَ الَّتِى أَقْرَأَنِى ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ b كَذَلِكَ أُنْزِلَتْ ، إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ .٭ رواه البخارى
Bercerita kepadaku Said bin Ufair dia berkata, bercerita padaku Laits dia berkata, bercerita padaku Uqail dari Ibnu Syihab dia berkata, bercerita padaku Urwah bin Zubair, Sesungguhnya Miswar bin Mahkromah dan Abdurrohman bin Abdul Qoriy bercerita kepadanya, Sesungguhnya keduanya mendengar dari Umar, dia berkata, Saya mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqon pada masa hidup Rosululloh, aku dengarkan bacaannya ternyata dia membaca dengan huruf-huruf yang banyak yang tidak membacakannya Rosululloh kepadaku, maka hampir aku menyalahkannya pada waktu sholat, maka aku bersabar hingga dia mengucapkan salam, lalu aku tarik jubahnya dan aku Tanya : Siapa yang membacakan surat kepadamu yang tadi aku dengar? Dia menjawab : Rosululloh membacakannya padaku. Aku berkata : Kau dusta, karena Rosululloh membacakan surat itu kepadaku tidak seperti yang kau baca. Lalu aku pergi membawanya kepada Rosululloh, Aku berkata : Ya Roaululloh, aku dengar dia ( Hisyam ) membaca surat Al-Furqon dengan huruf yang tidak engkau bacakan kepadaku. Lalu Rosululloh bersabda : Bacalah Hisyam ! lalu dia ( Hisayam ) membaca dengan bacaan yang tadi aku dengar. Lalu Rosululloh bersabda : Begitulah dia ( Al-Qur’an ) di turunkan. Kemudian Rosululloh bersabda : Bacalah Umar ! Lalu aku baca dengan bacaan yang beliau bacakan kepadaku. Lalu Rosululloh bersabda : Begitulah dia ( al-Qur’an ) di turunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an di turunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah bagimu. ( HR Bukhori )
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِى سُلَيْمَانُ عَنْ يُونُسَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللهِ b قَالَ أَقْرَأَنِى جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ ، فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ ٭ رواه البخارى
Bercerita padaku Ismail dia berkata, bercerita padaku Sulaiman dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Ubaidillah ibna Abdillah ibna Utbah ibna Mas’udi dari Ibnu abbas Rodiyallohu anhuma, Sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda : Telah membacakan padaku Jibril atas huruf, maka tidak henti-hentinya aku minta tambahan padanya sehingga sampai pada tujuh huruf. ( HR Bukhori )
II. HIKMAH PENURUNAN AL-कुर AN DENGAN TUJUH HURUF
Yaitu meringankan dan memudahkan kepada Umat Muhammad, karena bangsa Arab yang di turuni Al-Qur’an dengan bahasa mereka, lisan mereka berbeda-beda, dan dialek mereka juga berbeda-beda, maka kalau Alloh membebani mereka dengan dialek yang berbeda dan berpindah pada lainnya pasti hal itu berat bagi mereka, dan tentu termasuk pembebanan hal yang tak mampu di lakukan , dan hal itu bertentangan dengan toleransi islam dan kemudahannya.
III. YANG DI MAKSUD DENGAN TUJUH HURUF
Para Ulama’ telah banyak berselisih tentang apa yang di maksud dengan tujuh huruf, mereka berbeda pendapat, tetapi pendapat yang di pilih oleh Syekh Abdul Fatah Al-Qodi dalam kitabnya Al-Wafi ialah pendapat Imam Abu Fadl Ar Rozi, yaitu : bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah segi-segi yang terjadi padanya perubahan dan perbedaan, dan segi-segi ini tidak keluar dari tujuh, yaitu :
- Perbedaan isim dalam mufrod,mutsanna dan jama’
- Perbedaan penafsiran Fi’il dari madly, mudhori’ dan amar
- Perbedaan segi pengi’roban
- Perbedaan dengan menetapkan dan membuang
- Perbedaan dengan mendahulukan dan mengakhirkan
- Perbedaan dengan menjadikan satu huruf pada tempat lain
- Perbedaan pada dialek seperti fatah, imalah, idghom dan idhar, mengganti hamzah dan mentakhfifkannya dan menaqolkan harokat hamzah atau menetapkannya
IV. KENAPA BACAAN-BACAAN ITU DI NISBATKAN KEPADA PARA IMAM AHLI MEMBACA ?
Adanya bacaan itu di nisbatkan kepada para Imam ahli membaca, karena masing-masing Imam tersebut menghabiskan masa hidupnya membaca qiroah yang ia masyhur dengannya, dan ia bacakan kepada manusia maka di katakan qiro’ah Nafi’ begini, dan qiro’ah Ibnu katsir begini. Maka ini penisbatan yang langgeng dan melekat begitu juga bacaan dan membacakannya, dan bukan penisbatan yang di buat-buat atau di ada-adakan. Al-Qur’an dan Qiroat ini diterima dengan Talaqqi dan dari lisan langsung juga dari syekh-syekh yang bersambung sanadnya dengan Rosululloh SAW.
V. TUJUH IMAM QIROAH
Diantara para Imam Qurro’ yang paling banyak di kenal adalah tujuh Imam Qiro’ah. Mereka ini menjadi rujukan dalam ilmu qiro’ah dan mengalahkan Imam-imam yang lain. Dari masing-masing tujuh Imam itu dikenal dua orang perowi di antara sekian banyak perowi yang tidak bisa di hitung jumlahnya.
Nama-nama tujuh Imam dan dua orang perowinya itu adalah :
- Nafi’ Al Madaniy dua orang perowinya adalah Qolun dan Warsy
- Ibnu Kastir Al Makiy dua orang perowinya adalah Al Bazzi dan Qumbul
- Abu Amr Al Bashriy dua orang perowinya adalah Ad Duri dan As Susi
- Ibnu Amir Ad Dimasqiy dua orang perowinya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan
- ‘Asyim Al Kufiy dua orang perowinya adalah syu’bah dan Hafsh
- Hamzah Al Kufiy dua orang perowinya adalah Kholaf dan Khollad
- Al Kisa’I Al Kufiy dua orang perowinya adalah Abul Harits dan Ad Duri


Sumber : http://iskicha.blogspot.com/2008/04/mengenal-qiroah-sabah.html?zx=97d2b5f09ffc1171